Email This Post
|
|
JAKARTA. Beberapa stimulus fiskal yang diberikan pemerintah di sektor perpajakan ternyata belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pengusaha. Dua insentif pajak yaitu subsidi pajak penghasilan (PPh) karyawan dan subsidi bea masuk ditanggung pemerintah (BM DTP) sampai pertengahan bulan Agustus 2009, penyerapannya masih rendah.
Untuk stimulus pajak penghasilan pasal 21 Ditanggung Pemerintah (PPh 21 DTP), misalnya, penyerapannya baru sekitar 10% dari total dana yang dialokasikan tahun ini sebesar Rp 6,5 triliun. Sedangkan realisasi penyerapan stimulus BM DTP masih diangka 15% dari alokasi dana sebesar Rp 2,5 triliun.
Direktur Kepatuhan, Potensi, dan Penerimaan Ditjen Pajak Sumihar Petrus Tambunan, mengatakan, meskipun Ditjen Pajak sudah melakukan berbagai sosialisasi agar insentif itu dimanfaatkan dengan baik, namun sampai saat ini realisasi penyerapan masih saja sangat minim.
“Kami nggak tahu bagaimana bisa minim penyerapannya. Padahal, sosialisasi sudah berkali kami lakukan,†kata Sumihar di Jakarta, kemarin. Menurutnya, keengganan pengusaha untuk memanfaatkan insentif subsidi PPh bagi karyawan, menjadi penyebab mengapa penyerapan menjadi rendah.
Ia berpendapat, keengganan itu disebabkan karena pengusaha takut jika tahun ini insentif diberikan dan dicabut tahun depan berarti ada kesan penurunan gaji karyawan. Misalnya tahun ini pengusaha memanfaatkan insentif PPh 21 DTP, berarti take home pay karyawan naik. Namun jika tahun depan dicabut, maka dikhawatirkan pekerja akan menuntut karena gajinya turun.
Namun begitu, Ditjen Pajak mengaku tidak bisa berbuat banyak atau tegas kepada para pengusaha karena sifat stimulus tersebut adalah sukarela. “Kami tidak bisa enforce karena tidak ada uang yang diambil. Jadi kalau diambil, tinggal dikembalikan ke kas pemerintah,†katanya.
Hal senada diungkapkan Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Menurut Anwar, realisasi insentif BM DTP di sektor industri juga masih rendah, yakni dikisaran 15%. Namun, jika dibandingkan dengan realisasi pada awal Juni 2009, angka itu meningkat cukup besar karena saat itu realisasinya hanya sebesar 3%. “Masih sekitar 15% dan didominasi oleh BM DTP di sektor otomotif,†kata Anwar di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan, di beberapa sektor lain memang realisasi sudah ada, namun angkanya tidak terlalu besar. Dengan realisasi sebesar 15%, maka dari total alokasi stimulus fiskal BM DTP sebesar Rp 2,5 triliun yang terserap baru sekitar Rp 375 milliar.
Sumber : KONTAN

