Email This Post
|
|
JAKARTA. Menginjak bulan kedelapan, Program Stimulus Fiskal 2009 masih sepi peminat. Pemakaian insentif berupa bea masuk ditanggung Pemerintah (BMDTP) dan pembebasan pajak penghasilan alias PPh 21 untuk karyawan dengan gaji sampai Rp 5 juta per bulan masih lambat.
Departemen Keuangan mencatat, penyerapan subsidi bea masuk bahan baku dan barang modal untuk 11 sektor usaha hingga pertengahan Agustus 2009 ini baru 15% dari total senilai Rp 2,5 triliun. “Masih didominasi sektor otomotif,” kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, Kamis (27/8).
Tapi, Anwar berkilah, angka penyerapan tersebut jauh lebih baik ketimbang awal Juni lalu, yang cuma 3%. Selain otomotif, sektor usaha yang juga mendapat BMDTP, antara lain industri pesawat terbang, elektronik, perkapalan, sorbitol, dan telematika.
Realisasi pembebasan PPh 21 senilai total Rp 6,5 triliun sama saja, baru 15%. “Ini karena pengusaha enggan memanfaatkan insentif tersebut,” ungkap Direktur Kepatuhan, Potensi, dan Penerimaan Direktorat Jenderal Pajak Sumihar Petrus Tambunan.
Soalnya, Petrus menjelaskan, perusahaan khawatir pembebasan PPh 21 hanya berlaku tahun ini dan tidak berlanjut ke tahun berikutnya. Sehingga, karyawan akan protes keras lantaran merasa besaran gajinya bakal turun.
Rendahnya penyerapan stimulus fiskal juga terjadi pada belanja stimulus infrastruktur. Sampai 18 Agustus, besarannya baru Rp 1,38 triliun atau 13,57% dari Rp 11,215 triliun.
Toh, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu bilang, Pemerintah akan meneruskan insentif BMDTP tahun depan. “Terutama bagi sektor yang menyerap tenaga kerja dan menyangkut kepentingan publik,” katanya.
Sumber : KONTAN

